Mimpi dan Keyakinan, 

Berawal dari mimpi memanfaatkan lahan kosong di Balaikota Prov DKI Jakarta tahun 2018 dan langkah inipun  menjadi kenyataan berawal dari disposisi Kadis Diskominfotik Tanggal 8 Januari 2019 Tentang   Implementasi Pertanian Perkotaan dan Website Pertanian, dan dilakukan rapat di Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta dan di resmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sekda Provinsi DKI Jakarta Saefullah, Tanggal 2 Agustus 2019

  

#PAMERAN INOVASI DI BALAIAGUNG, BALAIKOTA

Pada Tanggal 22 Februari 2019 diberikan kepercayaan program Urban Farming 4.0 yang diajukan oleh Kadis Kominfotik   Provinsi DKI Jakarta menjadi salah satu Pameran Inovasi  Pameran Pemprov DKI Jakarta di acara BPSDM, berlokasi di  Balaiagung yang mendapat antusias dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk segera di implementasikan dan gayung berlanjut, Penetuan lokasi juga segera di lakukan di lokasi Taman BLOK   E. 

Sekedar diketahui lokasi ini memiliki nilai sendiri,  dimana telah dilahirkan kebijakan stategis pemerintah DKI Jakarta dengan   Lahirnya Sistem Respon Opini Publik (2011), KIP (2012),   Sistem CAT online Lelang Jabatan (2013), Jakarta Smart City (2014) dan Opendata (2015).

Hasil rapat pada 14 Maret 2019, di Balaikota disepakati   rancangan design lokasi Balkot Farm dengan tugas  masing-masing,  Diskominfotik bertugas membangun (APP farming ) pemanfaatan IoT - FGD,  Dinas KPKP seperangkat   pertanian Urban Farming, Mural dan managemen pertanian   dibantu Sudin KPKP Jakpus dan Jaksel sementara Biro Umum   menyediakan lahan, Air, Listrik sedangkan untuk monitoring progres  dilakukan oleh TGUPP DKI Jakarta, sebagai pilot project implementasi   Instruksi Gubernur No 14 tahun 2018. 

Pada Tanggal 3 April 2019  di mulailah  lokasi Balkot Farm di bangun baik dari sistem pertanian   Hidroponik, Mural dan IoT serta infrastruktur lainnya.

#Balkot Farm, Konsep Keren DKI Kembangkan Urban Farming 4.0



Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, terus berupaya mengembangkan konsep pertanian perkotaan (urban farming) di Ibukota. Salah satunya melalui program Urban Farming 4.0 melalui Balkot Farm

Balkot Farm adalah project percontohan (pilot project) program Urban Farming  4.0 di Lingkungan Balaikota DKI yang melibatkan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik), Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan (KPKP)  serta Biro Umum Setda Provinsi DKI. 

Mengusung konsep elaboratif urban farming dan pemanfaatan loT, Balkot Farm dibentuk untuk membantu program Gubernur DKI Jakarta terkait Design Besar Pertanian Perkotaan 2018-2030, sekaligus realisasi  Instruksi Gubernur DKI No 14 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pertanian Perkotaan. 


Kepala Dinas Kominfotik DKI, Atika Nurahmania mengatakan, konsep urban farming 0.4 yang dikembangkan Balkot Farm ini untuk memudahkan para petani kota  mengembangkan dan memaksimalkan hasil pertanian mereka dengan memanfaatkan IoT sebagai sarana penujang pertanian. 

" Selain penggunaan IoT, lokasi Balkot Farm bisa dijadikan objek kumpulnya para pegiat urban farming di Kota Jakarta, dalam bentuk FGD dan kemitraan," ungkapnya

Instalasi IoT


Untuk pembangunan aplikasi Balkot Farm, Kepala Bidang Iinformasi Publik Dinas Kominfotik DKI, Raides Ariyanto menjelaskan,  pegembangan IoT dalam Balkot Farm ini untuk sensor PH, TDS dan Suhu Udara yang dapat dimonitor melalui situs https://balkotfarm.jakarta.go.id

Selain itu, lanjut Raides, Balkot Farm juga menjadi integrator bagi para pegiat petani kota di DKI dalam kegiatan urban farming melalui share info berbasis maping.

"Mereka bisa saling review bertukar pengalaman. Nanti kita kembangkan aplikasi untuk deteksi daun yang berguna untuk edukasi pengenalan jenis tanaman, " ujar Raides. 

Inovasi Urban Farming

Kepala Dinas KPKP Darjamuni menambahkan, inovasi urban farming yang di implementasikan di Balkot Farm adalah hidroponik murah dan bisa di implementasikan oleh masyarakat juga bisa menjadi wadah berkumpulnya para pelaku petani perkotaan. 

Menurut Darjamuni, budidaya tanaman dengan sistem hidroponik yang diaplikasikan Balkot Farm di area taman Balai Kota, diharapkan dapat menjadi contoh bagi warga DKI Jakartauntuk melakukan hal yang sama.

"Kami ingin membuat percontohan bahwa pertanian perkotaan itu bisa dikembangkan di Jakarta tanpa lahan yang luas, " tegasnya. 

Kepala Seksi Pertanian Dinas KPKP, Taufik Yulianto mengungkapkan, untuk pengembangan progam Balkot Farm ini, pihaknya sudah menggelar bimbinhan teknis (Bimtek) dan motifasi kepada anggota karang taruna dan Kader PKK Jakarta pada  22 -25 April lalu. 

"Total dari lima wilayah kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu ada 400 pemuda yang akan terlibat dalam pertanian perkotaan. Untuk itu, kita berikan bimtek dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten," tandasnya.

Pemanfaatan Lahan Kantor Balaikota


Sementara, Kepala Biro Umum DKI Jakarta, Firmansyah, mendukung budidaya taman hidroponik di lingkungan Balai Kota. Karena itu pihaknya menyediakan segala kebutuhan untuk membantu kelancaran di lapangan.

"Kami sediakan kebutuhan listrik, air, lampu dan kamera pengawas, lahan tersebut di Balaikota diantara Blok G dan Blok F, ini bisa menjadi contoh temen-temen untuk memaksimalkan lahan di perkantoran tandasnya. 

Disambut Antusias Warga


Untuk lebih memperkenalkan kepada masyarakat luas, pada 27-28 April, Balkot Farm ikut dalam kegiatan pameran Happies Festival 2019 pada booth Jakarta Smart City, yang dilakaanakan di kawasan  Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. 

Menurut Hari salah satu penyuluh dari Dinas KPKP DKI mengatakan pada pameran ini Balkot Farm disambut antusias warga yang ingin belajar dan berinovasi dengan pemantapan urban farming 4.0

Sementara Indri (21), warga yang hadir di pameran ini mengatakan,  sangat tertarik dengan konsep urban farming dari bahan-bahan bekas, karena bisa mengurangi pencemaran lingkungan.

Ini sangat bagus. Saya ingin sekali belajar memanfaatkan barang bekas untuk kegiatan pertanian, " ucapnya. 

Lain halnya Jefrry (19) salah seorang mahasiswa di Jakarta mengaku,  sangat tertarik dengan konsep urban farming 4.0, yang diterapkan Balkot Farm. 

"Ini sangat keren, apalagi bisa di monitor secara aplikasi" tuturnya. 

Bukan hanya warga lokal, program Balkot Farm ini juga menarik perhatian Jany (34), turis asing asal Jerman. Dia menilai, konsep yang diterapkan ini bagus, efisien dan kolaboratif dengan IoT.